CERITA INSPIRATIF
“Kisah
Nyata…
Sang
Miliader, Merawat Sendiri Istri Selama 25 Tahun.
Eko Pratomo
Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di
koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang
tokoh di balik kemajuan industri reksadana di Indonesia sekarang ini, juga
seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksa dana besar di negeri
ini. Ia tergolong miliader.
Dalam
posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan, pria ini pasti
super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tulisan ini, bukan hendak menyoroti
kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Tetapi, kesehariannya yang luar biasa.
Usianya
sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja, bahkan
sudah mendekati malam. Tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang
sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
Cobaan
menerpa, tatkala istrinya melahirkan anak yang ke empat. Tiba-tiba kakinya
lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak
tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang.
Lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari
sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran,
menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia gendong istrinya ke depan
TV, agar tidak merasa kesepian. Istrinya sudah tidak dapat bicara, selalu hanya
terlihat senyum.
Untunglah
kantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari
dapat pulang untuk menyuapi istrinya untuk makan siang. Sorenya adalah jadwal
memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya
nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian. Walaupun
istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan mata, namun bagi Pak Suyatno sudah
cukup menyenangkan.
Bahkan
terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas
ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia
merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang
anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.
Pada suatu
hari?
Saat seluruh
anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya ? karena setelah anak-anak mereka
menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing ? Pak Suyatno memutuskan
dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu: Semua
anaknya dapat berhasil. Dengan kalimat yang cukup hati-hati, si anak
sulung berkata:
“Pak kami
ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak
ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami
menjaga ibu,” kata si sulung dengan air mata berlinang.
“Sudah ke
empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan
mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak? Dengan berkorban seperti
ini, kami tidak tega melihat bapak, kami berjanji akan merawat ibu
sebaik-baiknya secara bergantian,” tambah si sulung melanjutkan permohonannya.
“Anak-anakku?
Jika perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan
menikah lagi. Tetapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu
sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian.” Sejenak kerongkongannya
tersekat.
“Kalian yang
selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta, tidak satu pun dapat
dihargai dengan apa pun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan
keadaamnya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak
bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya seperti sekarang? Kalian
menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain,
bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali
tidak diduga anak- anaknya.
Meledaklah
tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka juga menyaksikan butiran-butiran kecil
jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno, yang dengan pilu menatap mata suami yang
sangat dicintainya.
Sampailah
akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta di Jakarta
untuk menjadi narasumber. Host mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno, kenapa
mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa?
Di saat itulah meledak tangis Pak Suyatno, bersama tamu yang hadir di studio
yang kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru.
Pak Suyatno
bercerita: “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam
perkawinan tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian, semua
itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya,
yang sewaktu sehat dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati
dan bathinnya, bukan dengan mata. Dia memberi saya empat anak yang lucu-lucu.
Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama, itu
merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintai
dia apa adanya. Jika dia sehat pun, saya belum tentu mau mencari penggantinya,
apalagi dia sakit,” katanya sembari berurai air mata.
“Setiap
malam saya bersujud dan menangis. Saya hanya dapat bercerita kepada Allah di
atas saja. Saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan
mendengar rahasia saya. Cinta saya kepada istri saya, sepenuhnya saya serahkan
kepada Allah.”
Sebuah kisah nyata yang sangat
mengharukan dialami seorang pria yang kehilangan istrinya karena penyakit
kanker. Namun, dalam perjalanan jelang ajal sang istri, pria tersebut terus
mendampingi istrinya.
Berikut kisahnya yang dibagikan
pengguna Facebook bernama Mas Rozi yang sangat mengharukan dan membujat netizen
menangis membaca perjalanan cinta pasangan tersebut.
“Tiba-tiba HP ku berdering,
setelah menjawab salam suara diseberang telepon tampak panik “Ayah.. bunda
mimisan nich.” Hmm.. kumaklumi kepanikan istriku saat itu karena belum pernah
dia mengalami mimisan seperti ini.
Memang cuaca di bulan Agustus
2007 siang itu begitu teriknya. Aku pikir ini akibat cuaca yang terik itu.
Kemudian aku sarankan dia untuk segera ke dokter.
Beberapa hari kemudian istriku
sakit pilek. Seperti biasanya kalau sakit ia hanya minum obat warung dan jarang
sekali mau periksa ke dokter. “ oalah bunda…. ke dokter ajah kok takut,”
ledekku, ku sorong pipi kenyalnya dengan ujung jari, ia merajuk bibirnya maju 2
centi, lucu melihatnya seperti itu.
Dua minggu berselang tapi
pileknya belum juga hilang. Malah katanya ada yang terasa menyumbat di saluran
hidungnya, rasanya tak nyaman dan susah bernafas. “Bun… besok kita ke Rumah
Sakit ya! biar ayah ijin masuk siang,” rayuku agar ia mau ke Rumah sakit.
Keesokan harinya saya ajak ia
ke RS. Bhakti Yudha Depok. Saat itu dokter THT bilang istriku alergi pada debu
dan juga bulu-bulu binatang. Tapi sampai obatnya habis pileknya belum juga ada
tanda-tanda kesembuhan.
Anehnya yang sering keluar
lendir hanya hidung sebelah kiri saja. Bahkan istriku mulai susah bernafas
melalui hidung, ia hanya bisa bernafas melalui mulut. Dan ketika saya
membawanya periksa untuk kedua kalinya dokter menyarankan untuk rontgen. Namun
dari hasil rontgen tidak terlihat adanya kelainan apapun di hidung istriku.
***
Tanggal 3 Nov 2007 …
Aku mengajaknya periksa ke RS
Proklamasi Jakarta, karena menurut informasi di sini peralatanya lebih lengkap.
Ternyata benar, dengan alat penyedot dokter mengeluarkan lendir dari dalam
hidung istriku. Senang rasanya melihat ia dapat bernafas dengan lega.
“Alhamdulillah…..”
Beberapa hari kemudian sumbatan
itu kembali muncul. “Duh..bunda!” Kontrol kedua ke RS. Proklamasi masih saja
dokter belum bisa menyampaikan penyakit apa yang dialami istriku ini.
Dokter memasukkan kapas basah
ke hidung istriku (ternyata itu adalah bius lokal), beberapa saat kemudian
sebuah gunting kecil dimasukkan kedalam hidung dan.. “krek” potongan daging
kecil diambil. Belakangan baru aku tau tindakan inilah yang dinamakan biopsi.
Tak ada yang disampaikan kepada kami. Dokter menyarankan dilakukan CT Scan.
Kemudian kami menuju ke RSCM untuk CT Scan.
Keesokan harinya hasil CT Scan
aku bawa kembali ke Dokter RS Proklamasi. Setelah melihat hasil Scan, Dokterpun
menyampaikan hasilnya dan juga hasil biopsi dari laboratorium.
“ini ibu positif,” kata dokter
sambil menunjukkan foto CT Scan. Nampak ada sebuah massa diantara belakang
hidung dan tenggorokan istriku. Cukup besar seukuran kepalan tangan. Aku masih
belum mengerti maksud kata-kata nya dan memang sama sekali tak ada pikiran yang
aneh aku coba bertanya, “maksudnya apa dok?”
ibu positif kanker!”
Dek.. seolah detak jantungku
berhenti “KANKER…Dok?” Tiba-tiba mataku jadi gelap, sebuah beban berat serasa
menindih badanku. Aku diam dan tak bisa berkata apa-apa, lama aku terdiam.
“Kanker..?” tanyaku, tapi
kalimat itu tak mampu terucap hanya bersarang di kepalaku. Sebuah penyakit yang
selama ini hanya aku kenal lewat informasi dan berita-berita, kini penyakit
itupun menghampiri orang terdekatku orang yang paling aku sayangi. Penyakit
yang menakutkan itu menyerang istriku.
Kutatap wajah cantik istriku
yang dibalut jilbab favoritnya, tenang.. teduh… tak ada ekspresi apa-apa aku
makin bingung.
“duhh…bunda apa yang ada dalam fikiranmu bunda…”
“Sekarang bapak ke RSCM ke bagian Radiologi kita harus bertindak cepat,”
tiba-tiba aku tersadar. Segera kuambil surat pengantar dokter dan menuju RSCM.
Sungguh tak pernah terpikirkan
sedikitpun sebelumnya, kini kami berada dalam deretan orang-orang penderita
kanker di ruang tunggu spesialis Radiologi ini. Aroma kecemasan bahkan keputus
asaan tergambar di wajah mereka. Sebenarnya ini juga saya rasakan, tapi saya
harus menyembunyikan raut ini di hadapan istriku. Aku harus tetap menyuguhkan
energi penyemangat padanya.
Dihadapan dokter Radiologi aku
bertanya, “sebenarnya istriku kena kanker apa dok?”
“kanker nasofaring.” jawab
dokter singkat.
Ya Allah….kanker apa lagi ini?
Istilahnya saja aneh bagiku. Kenapa harus istriku yang mengalaminya?
“Tapi Insya Allah masih bisa
disembuhkan dengan pengobatan sinar radiasi dan kemoterapy,” dokter mencoba
menangkap kegalauan diwajahku.
“Nanti ibu harus menjalani
pengobatan radiasi selama 25 kali.”
Terbayang beratnya derita dan
kelelahan yang harus dialami istriku. Belum lagi dengan kombinasi pengobatan
kemoterapy yang melemahkan fisik.
Keluar dari ruang radiologi
seolah semuanya jadi gelap, rasanya aku tak kuat menahan segala beban ini.
Segera aku sms family dan teman-teman dekatku, aku kabarkan keadaan istriku dan
kumintakan do’a dari mereka. Tak terasa bulir-bulir bening air mata bermunculan
disudut mataku.
“Ayah kenapa? nangis yach..?”
dengan polos pertanyaan itu keluar dari bibir istriku.
“iya, ayah sayaaang…. sama
bunda,” suaraku gemetar.
Ku usap lembut kepala istriku.
Ku tepis perlahan tangannya yang mencoba mengusap air mataku, ku gengggam kuat
jari-jari lemahnya. Hatiku berbisik “kenapa tak ada kesedihan diwajahmu bunda?
apakah bunda ga tau penyakit ini begitu berbahaya? Atau Allah telah
memberitahukan ini semua kepadamu?”
Bunda biasa ajah koq..”
Jawabanya malah makin membuatku tak bisa bernafas, air mataku akhirnya jatuh
juga.
Kususuri lorong-lorong RSCM
dengan langkah lemas tak bertenaga seolah aku melayang, tulang-tulang terasa
tak mampu menyangga badanku yang kecil ini.
Tanggal 5 Desember 2007 …
Mulai hari itu istriku harus
dirawat inap di RS. Proklamasi. Semua persiapanpun dilakukan mulai dari USG,
Bond Scan dll. Hasilnya rahim masih bersih dan tulangpun normal artinya
kankernya belum mejalar ke bagian lain, Alhamdulillah…sempat kuucap kata syukur
itu
Tanggal 8 Desember 2007 …
Hari ke empat. Sore itu aku
dipanggil ke ruang Dokter Sugiono yang akan melakukan Kemoterapy. Dikatakan
bahwa kanker istriku stadium 2A dan Insya Allah masih bisa diobati. Istrikupun
siap untuk menjalani pengobatan dengan kemoterapy. Kemudian kami minta ijin ke
Dokter untuk diperbolehkan pulang sambil mempersiapkan segala sesuatunya.
Malam hari ketika kami di
rumah, kami minta pendapat dari pihak keluarga tentang pengobatan yang akan
kami lakukan. Dengan berbagai pertimbangan dan alasan pihak keluarga
menyarankan agar kami tidak menempuh jalan kemo dan radiasi. Kami disarankan
untuk menjalani pengobatan dengan cara alternatif dan pengobatan herbal.
Akhirnya sejak saat itu kami
melakukan ikhtiar pegobatan dengan cara alternatif dan minum obat-obat herbal.
Karena saat itu istriku sudah susah untuk menelan maka obat herbal yang
diberikan tidak berupa kapsul, melainkan berupa rebusan. Setiap hari istriku
harus minum ramuan dan rebusan obat-obat herbal yang baunya sangat menyengat.
Tapi aku lihat ia dengan telaten dan sabar rutin minum semua obat-obatan itu.
Semangatnya untuk sembuh begitu
besar. Doa pun tiada henti kupanjatkan siang dan malam. Dan malam-malamku
selalu ku habiskan dengan tahajud dan hajat.
Aku mulai rajin mencari semua
informasi yang berhubungan dengan kanker nasofaring, mulai dari makanan, cara
pengobatan, bahkan alamat klinik pengobatan alternatif. Semua informasi aku
cari melalui internet, koran dan dari rekan-rekan kerja.
Tiga bulan pengobatan, tapi
Allah sepertinya belum memberi jalan kesembuhan dengan cara ini, akhirnya obat
herbal aku tinggalkan. Bahkan pengobatan alternatif sudah aku tinggalkan sejak
1 bulan pertama karena aku ragu. Beberapa keluarga istri mulai putus asa. Malah
ada yang beranggapan penyakit ini adalah kiriman dari orang. Tapi aku bantah
semuanya,sempat ada pertentangan di antara kami. Aku yakinkan istriku bahwa ini
adalah memang ujian dari Allah,
“Bun..semuanya atas kehendak
Allah, bahkan jauh sebelum kita lahir sudah tertulis takdir ini, usia segini
bunda sakit, berobat kesini-sini itu semua sudah ada dalam catatan Allah bun.
Yang penting sekarang kita jangan lelah berihtiar dan bunda tetep harus
semangat untuk sembuh.” Ia mengangguk perlahan.
Berat badan istriku mulai turun
drastis karena tak ada asupan makanan, sebelum sakit beratnya 53 Kg kini
tinggal 36 Kg. Kondisinya makin parah dan puncaknya ketika aku lihat mata
kirinya sudah tak focus. Cara ia melihat seperti orang juling. Menurut Dokter
herbal yang menangani istriku inilah rangkaian perjalanan kanker tersebut yang
lama kelamaan akan menyerang otak. Dokter menganjurkan untuk segera dibawa ke
rumah sakit.
Tanggal 26 Maret 2008 …
Akhirnya aku kembali membawanya
ke Rumah Sakit. Kali ini aku membawanya ke RS. Husni Thamrin. Istriku ditangani
oleh team yang terdiri Dokter THT, Dokter Internis dan Dokter spesialis ahli
kemoterapy, Kebetulan Dokter Sugiono ahli kemoterapy yang dulu merawat istriku
di RS. Proklamasi juga praktek di sini. Dan kini Dokter sugiyono kembali
menangani istriku.
Sore itu Dokter memanggilku ke
ruangannya. Dokter menjelaskan stadium kanker istriku sudah menjadi 4C, dan
kankernya sudah mulai menggerogoti tulang tengkorak penyangga otak. Melihat
hasil CT Scan nya aku merinding, terlihat jelas tulang-tulang tengkorak itu
keropos layaknya daun termakan ulat. Aku ingin menjerit, “Ya Allah… begitu
berat cobaan ini Kau timpakan pada kami”
“Ma’afkan ayah bun, ayah tak
mampu menjaga bunda…!”
Yang lebih mengagetkan ketika
dokter mengatakan, “kita hanya bisa memperlambat pertumbuhan kankernya bukan
mengobati.” Seolah hitungan mundur kematian itu dimulai. Aku limbung dan hampir
taksadarkan diri, sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap tegar. Dengan dipapah
adik aku keluar dari ruang dokter.
Segera aku menuju Mushola
kuambil air wudhu dan kujalankan sholat. Entah sholat apa yang kujalankan ini.
“Aku ingin ketenangan aku butuh
pertolonganMu ya Robb. Kutumpahkan segala permohonan ini dihadapanMu yaa Allah.
Bisa saja dokter memfonis dengan analisanya, tapi Engkaulah yang maha kuasa
atas segala sesuatunya. Engkau maha menggenggam semua takdir, sakit ini dariMu
ya Allah dan padaMU juga aku mohon obat dan kesembuhannya.”
Segala ikhtiar dan do’a tiada
lelah kulakukan tuk kesembuhan istriku. Malam-malamku kulalui dengan sujud
panjang disamping bangsal rumah sakit. Kubenamkan wajahku diatas sajadah lebih
dalam lagi, tiba-tiba aku merasa tak mimiliki kekuatan apapun, aku berada dalam
kepasrahan dan penghambaan yang lemah.
“Robb…Engkau maha mengetahui,
betapa segala ihtiar telah kami lakukan. Tiada menyerah kami melawan penyakit
ini, kini aku serahkan segalanya padaMu, tidak ada kekuatan yang sanggup
mengalahkan kekuatannMu yaa…Robb, Tunjukkan pertolonganMu, beri kesembuhan pada
istriku Ya..Allah.”
Saat itu istriku masih bisa bicara
meski dengan suara kurang jelas. Karena tenggorokannya pun sudah menyempit
tersumbat kanker, ia sangat kesulitan dalam bernafas. Untuk mengantisipasi agar
tidak tersumbat saluran nafasnya, dokter menyarankan agar dipasang ventilator
dileher istriku. Akupun menyetujuinya meskipun aku tak tega, tapi ini resiko
terkecil yang bisa diambil.
Istriku pasrah, dia minta aku
menemaninya ke ruang operasi. Aku sangat mengerti ia sangat takut dengan
peralatan medis di ruang operasi. Kemudian aku mendampinginya kedalam ruang
operasi untuk pemasangan Ventilator. Aku melihat dengan jelas leher istriku
disayat kemudian dimasukkan alat bantu pernafasan itu. “Sebenarnya aku tak tega
melihatmu seperti ini bunda, tapi inilah yang terbaik untukmu saat ini.”
Selesai pemasangan ventilator
bicaranya sudah tak bersuara lagi. Sejak saat itu praktis komunikasi kami hanya
dengan isyarat atau terkadang istriku menulisnya pada lembar-lembar catatan
kecil yang sengaja aku siapkan. Tentu saja hal ini terasa capek baginya. Namun
sekali lagi ia terlihat tegar tak pernah aku mendengar ia mengeluh.
Akhirnya dengan berbagai
pertimbangan akupun menyetujui untuk dilakukan kemoterapy terhadap istriku
Tanggal 6 April 2008
Kira-kira jam 12 siang kemo
tahap pertama dilakukan. Dengan perasaan tak menentu aku melihat dokter meracik
obat dengan perlengkapan pengaman yang lengkap. Karena menurut dokter obat ini
memang keras.
“Ya Allah beri kekuatan pada
istriku…!” Beri kesembuhan melalui ihtiar obat ini ya Allah..!”
Sepanjang proses pengobatan tak
hentinya kupanjatkan do’a dan dzikir dibantu dengan beberapa anggota keluarga.
Menurut Dokter kemo ini
dilakukan dalam 3 sampai 5 tahap. Satu tahapan kemo memakan waktu 5 hari
kemudian jeda 3 minggu untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Hari kedua setelah kemo kurang
lebih jam 9 malam, istriku mulai merasa mual dan muntah. Hari ketiga jam 12
malam mulai keluar mimisan dengan darah hitam mengental. Hari ke empat jam 8
pagi ketika saya memandikan dan membersihkan mulutnya yang terus menerus
mengeluarkan lendir, terdapat lendir bercampur darah hitam pekat dan mengental.
Menurut dokter ini adalah tanda
kankernya sudah mulai hancur. Malam harinya istriku tidur sangat nyenyak dan
tidak banyak batuk berdahak seperti hari-hari sebelumnya.
Alhamdulillah kemo tahap pertama
selesai. Dokter bilang jika kondisi istriku membaik maka tiga hari lagi boleh
pulang. Terlihat wajah cerah istriku ketika mendengar kabar ini. “nanti kalo
pulang mau kemana bun.. ke Sawangan apa ke Kebayoran (rumah ibunya)?”
“ke Sawangan aja rumah kita
sendiri,” jawabnya melalui secarik kertas. Namun ternyata dua hari kemudian ia
mengalami diare yang hebat ini adalah efek samping dari obat kemo, sehingga
kondisinya kembali lemas. Rencana pulangpun harus ditunda menunggu kondisinya
membaik. Tetapi makin hari kondisi istriku makin drop. Hingga menjelang kemo
tahap kedua malah albumin dalam darahnya menurun.
Selama dirawat istriku meminta
agar saya sendiri yang memandikannya, bahkan aku juga yang membersihkan
kotorannya. Semuanya saya kerjakan dengan telaten karena aku merasa sekarang
saatnya untuk membalas semua kebaikan yang telah dilakukannya kepadaku selama
ini. Ketika istriku sehat dialah yang selalu merawatku, menemaniku dan selalu
menyiapkan semua kebutuhanku.
Selama hampir satu bulan di
Rumah Sakit kami merasa menemukan keluarga baru. Keakraban terjalin antara kami
dengan team dokter, dengan para suster bahkan juga dengan cleaning service yang
tiap hari membersihkan kamar istriku. Saya merasa senang ketika suatu hari
istriku dapat tertawa riang bercanda dengan para suster meski tawanya tanpa
suara.
Minggu, 4 Mei 2008 …
Kemo tahap ke 2 dilakukan.
Sepertinya Allah benar-benar menguji kesabaranku. Ketika hendak dilakukan kemo,
tabung infus 1000cc yang digunakan untuk campuran obat kemo ternyata tidak ada.
Rumah sakit kehabisan stock, dan ini adalah sebuah kecorobohan yang mestinya
tidak terjadi.
Karena tentunya pihak rumah
sakit telah mengetahui jadwal pelaksaan kemo ini. Dokterpun marah. Kemudian
Dokter menyarankan saya untuk segera membeli sendiri tabung infus di tempat
lain. Tujuan saya adalah RSCM sebagai Rumah sakit terdekat, namun jika menuju
RSCM menggunakan kendaraan akan memakan waktu lama karena jalannya memutar.
Sayapun berlari ditengah terik matahari pukul 12 siang menuju RSCM. Namun
disanapun tidak tersedia, kemudian saya berlari lagi menuju RS Sant Carolus, di
sinipun nihil.
Begitu juga ketika saya ke
Apotik melawai tak bisa mendapatkannya. Akhirnya saya mendapatkan tabung infus
tersebut di Apotik Titimurni RS. Kramat. Akhirnya kemo tahap ke 2 pun dapat
dilakukan.
Senin, 5 Mei 2008 …
Hari ini Dinda anak kami yang
kecil ulang tahun ke 4. Perhatian dan kecintaan istriku pada anaknya tak pernah
berkurang. Dibatas ketidak berdayaannya dia menuliskan sesuatu, “Ayah jangan
lupa beliin hadiah buat Dinda, ayah beliin jaket nanti bunda titip mukena,
kasihan mukena dede sudah jelek. Bilang ke dede ini mukena dari bunda.”
Atas permintaan istriku siang
itu sebagai tanda syukur kami memotong 2 buah kue ulang tahun yang salah
satunya untuk dibagikan ke suster-suster yang jaga. Kemudian istriku minta
dibantu turun dari tempat tidur, katanya ingin duduk bareng deket Dinda. Ia
mencoba memberikan senyum bahagia pada Dinda dan menyembunyikan rasa sakitnya.
Sementara Dinda nampak bahagia dipangku bundanya, mungkin ia mengira bundanya
hanya sakit biasa saja. Lagu “selamat ulang tahun” yang kami nyanyikan
terdengar getir di telingaku. Terasa pilu aku menatap mereka.
Selasa, 13 Mei 2008 …
Biasanya jika istriku
menginginkan sesuatu ia akan membangunkan saya dengan mengetuk besi tempat
tidurnya. Namun malam itu saya merasa sangat ngantuk dan lelah, saya menulis
pesan pada istriku, “bun..nanti kalo perlu apa-apa panggil suster aja ya! Ayah
ngatuk dan cape, jangan bangunin ayah ya!” Dengan isyarat lemah ia mengiyakan
permintaanku, ia mengusap tanganku kemudian menuliskan sesuatu “ayah tidur aja
gapapa kok, bunda juga mau istirahat.”
Rabu, 14 Mei 2008 …
Entah mengapa pagi ini aku
sangat ingin merawatnya. Ketika ia kembali diserang diare berkali-kali yang
sangat hebat aku sendiri yang membersihkan semuanya. Kemudian memandikannya dan
mengganti pakaiannya. Pagi itu aku minta Lia anak sulung kami yang masih duduk
di kelas 5 SD untuk menjaga bundanya, sebelum kemudian aku tinggal berangkat
kerja.
Siang pukul 11 Lia menelpon
“Ayah, bunda pingsan nafasnya cepet banget.” Aku kaget dan sangat khawatir.
Selang 15 menit Lia sms “bunda sekarang ada di ruang ICU”. Astaghfirullah
haladziim… apa yang terjadi pada istriku. Segera aku minta izin meninggalkan
kantor. Di Rumah Sakit aku dapati Lia menangis sesegukan tak berhenti. “bunda
yah… tolongin bunda yahh….!”
Kuhampiri istriku yang tergolek
taksadarkan diri. Perawat memasang semua peralatan pada tubuh istriku, entah
alat apa saja ini. Kuusap perlahan keningnya, dingin sekali. Tangan dan kakinyapun
sangat dingin. Hingga menjelang maghrib aku tak beranjak dari sampingnya. Tak
hentinya mulut ini memanjatkan doa. Sementara di luar ruang ICU sudah banyak
kerabat berdatangan.
Tekanan darahnya sangat rendah
dibawah 70. Dokter memberikan obat penguat tekanan darah dengan dosis tinggi.
Tekanan darahnya sempat naik namun masih dikisaran 75-80, sangat rendah.
Berkali-kali dokter menyuntikkan obat perangsang namun hasilnya tetap sama tak
berubah. Dokter memanggilku, perasaanku gelisah tak menentu, campur aduk antara
cemas, bimbang dan ketakutan yang amat sangat. Dugaanku benar Dokterpun
menyerah.
Melihat kondisinya yang terus
menurun ia menyarankan agar semua alat bantu dilepas saja. “maksudnya dok..?”
aku menodong penjelasan. “secara medis kondisi ibu sudah tidak dapat ditolong
lagi, lebih baik kita do’akan saja.” Aku benar-benar lemas mendengarnya seluruh
badanku gemetar merinding “benarkah tak ada lagi harapan.” Tiba-tiba aku
merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku tak mau menyerah, aku meminta agar semua
alat bantu itu tetap terpasang pada tubuh istriku, sambil menunggu keputusan
team dokter besok pagi.
“Aku tak mau kehilanganmu
bunda.” Ku pegang kuat jemarinya, “buka matamu bunda sebentar saja, ayah ingin
menatap mata bening bunda untuk terakhir kalinya,” kubisikan lembut
ditelinganya.
Pukul 22, aku disodori surat
pernyataan, tak sempat aku baca, kata suster ini adalah Surat persetujuan untuk
melepas semua alat bantu dari tubuh istriku. “Tak sanggup aku melakukan ini
bun, aku ingin tetap menatap wajahmu, aku ingin tetap mendampingimu meski dalam
ketidakberdayaanmu.”
Akhirnya adikku yang
menandatanganinya. Aku tak ingin selalu dihinggapi rasa bersalah jika
menandatangani surat itu. Kemudian semua alat bantu dilepas dari tubuh istriku,
tinggal tersisa alat pendeteksi detak jantung.
Bun…..inilah yang terbaik yang
diberikan Allah buat kita, maafkan ayah bun ayah tak bisa menjaga bunda. Ayah
ikhlas bunda pergi, ayah terima semua dengan ihklas bun.. Jangan khawatir bun,
ayah akan menjaga dan merawat anak-anak kita,” kubisikan lirih ditelinga
istriku.
Kutemui Lia yang menunggu
diluar ruang ICU, kubelai rambutnya penuh sayang. Ia menangis keras
sejadi-jadinya, mungkin ia paham apa yang kumaksudkan. “Bundaa….. Lia ga mau
kehilangan bunda, jangan tinggalin lia bundaa..!!” Tangisnya memekik, merebut
perhatian semua orang diruang tunggu ICU ini. Semua mata menatap kami tapi
mereka diam seolah mahfum dengan keadaan kami.
Dalam setiap rangkaian doaku
tak pernah aku mengucapkan kata-kata menyerah “kalo memang hendak Engkau ambil
maka mudahkan,” tak pernah aku menyebut kata-kata itu. Aku selalu minta
kesembuhan, kesembuhan karena aku memang menginginkan istriku benar-benar
sembuh.
Sepertinya kini aku harus
menyerah dan pasrah “Ya.. Robb jika memang Engkau menentukan jalan lain aku
ikhlas ya Allah…., mudahkan jalan istriku untuk menghadapmu dengan khusnul
khootimah.”
Menurut suster dalam kondisi
seperti ini pasien masih bisa mendengar. Kubimbing istriku menyebut kalimat
“LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLAH..” perlahan aku membimbingnya. Rasanya
aku mengerti betul setiap helaan nafasnya, raga kami bagai menyatu. Kuulang
hingga berkali-kali dengan helaan nafas yang terirama pelan. Dua bulir bening
tersembul dari sudut matanya. Aku merasakan ia sanggup mengikuti kalimat ini, terimakasih
ya Allah..!
Kamis, 15 Mei 2008 …
Aku terbangun ketika tiba-tiba
seorang suster memanggil “Keluarga ibu Siti Nurhayati..!” Aku bergegas masuk ke
ruang ICU, jam menunjuk Pukul 05.05, masih pagi dengan hawa dingin yang
menyusup tulang. “Ma’af pak, ibu sudah tidak ada.” ujar suster tadi singkat.
Meski aku tau maksudnya tapi aku masih tak percaya. Kutengok layar monitor yang
terhubung ketubuh istriku. Tak ada lagi yang bergerak disana.
Bagai tersambar petir, kudekap
tubuh lemas istriku. Bibirnya menoreh segaris senyum. “INNA LILLAAHI WAINNA
ILAIHI ROOJIUUN.” Aku lunglai terduduk disampingnya tapi tak ada lagi air mata
yang keluar. “Bun, Ayah ikhlas melepas bunda, Allah telah memilihkan jalan
terbaik buat kita.”
Selamat Jalan Istriku…… jemput
aku dan anak-anak nanti di pintu SurgaNya.
Semoga bermanfaat bagi yang
membacanya ….
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat …
… Semoga tulisan ini dapat
membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …”
Seorang konsultan pernikahan yang sangat piawai. Seorang
klien datang padanya dan berkata bahwa ia telah menikah selama bertahun-tahun,
“Tapi suami saya tidak tertarik pada saya lagi. Dia sering pulang terlambat
dari kantor. Saya tidak tahu pasti, namun dia mungkin sedang menjalin hubungan
dengan wanita lain. Saya ingin cerai dengannya.”
Konsultan
pernikahan ini sangat cerdas, “Dengar, suami Anda mungkin justru ingin Anda
menuntut cerai darinya. Jadi, jika Anda cerai degnan dia, Anda malah melakukan
persis apa yang dia inginkan. Dia akan bilang, ‘Yes!!’ Jadi begini yang harus
Anda lakukan… Anda mau kan membalas perbuatannya, dengan cara jangan cerai
dulu?”
“Sesuai
rencana! Ia mulai pulang lebih awal,” lapor si istri. “Bagus! Lanjutkan!” kata
si konsultan. Kemudian selama dua minggu berikutnya, si suami mulai lebih baik
terhadapnya, lebih lembut, lebih mencintai, rencana itu jalan!
Sampai suatu
ketika , klien itu tidak datang lagi untuk sesi konseling selama sebulan, jadi
si konsultan meneleponnya, “Apa yang terjadi? Anda belum menelepon. Apakah dia
jadi lebih baik?” “Oh, iya.. tentu!” “Ia jadi lebih lembut dan sayang kepada
Anda?” “Ya, ya, ya!” Apakah dia sudah jatuh cinta kepada Anda” “Sudah!” “Bagus!
Sekarang saatnya menceraikan dia!” “Oh tidaaaaaak! Dia begitu baik dan sayang
kepada saya!”
Dan memang
itulah rencana besar jangka panjangnya untuk mempertahankan pernikahan mereka.
Ibu hendak pergi ke rumah nenek selama dua hari. Maka, ibu
menitipkan bunga mawarnya kepada Rumi, putrinya. Dengan bersemangat, Rumi
merawat bunga-bunga mawar milik sang bunda hingga ia tak menyadari bahwa vas
bunga itu tersenggol.
Semua bunga yang tersusun pada vas itu menjadi berantakan dan
bunganya menjadi rusak. Rumi sangat ketakutan, namun tak bisa melakukan banyak
hal selain menunggu ibunya pulang dan mengakui kesalahannya.
Ketika ibunya pulang, Rumi langsung mengatakan yang
sejujurnya, “Ibu, maafkan Rumi. Vas bunganya tersenggol dan bunga kesayangan
ibu menjadi rusak.”
Ibu tersenyum. Rumi terkejut, “Mengapa ibu tidak marah..?”
“Bunga-bunga itu memang kesayangan ibu. Bunga ibu tanam untuk
memberikan keindahan dan bukan untuk marah.”
Terkadang kita akan mengeluarkan emosi ketika kita dapati hal
terbaik dalam diri kita terusik. Kita menjadi marah dan melukai banyak orang.
Sadarkah kita bahwa kita dianugerahi anak-anak bukan untuk menjadi sasaran
kemarahan? Demikian juga suami, istri dan sahabat.
Mereka ada bagi kita untuk membuat hidup kita bahagia sehingga
tak layak bagi kita untuk menjadikannya pelampiasan emosi. Sayangi mereka sama
seperti Sang Maha Kuasa menyayangi kita. Mereka adalah keindahan yang
diberikanNYA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar